Diurutkan dari yang paling cepat terasa di pemasukan.
01
Komisi yang tidak pernah berhenti
Tamu yang datang lewat agen perjalanan daring membawa potongan komisi di setiap pemesanan,
umumnya belasan sampai dua puluh persen, dan potongan itu berlaku selamanya. Media sosial
tidak memotong komisi, tetapi juga tidak menghentikannya, sebab calon tamu yang menemukan
Anda di Instagram tetap memesan lewat agen karena di sanalah tombol pesannya berada.
Website dengan halaman tarif, ketersediaan, dan nomor yang langsung terhubung ke pengelola
memindahkan pemesanan itu ke tangan Anda sendiri.
Coba hitung. Berapa pemesanan setahun, dikali tarif rata-rata, dikali
persentase komisinya. Angka itu biasanya melampaui biaya website pada tahun pertama.
02
Orang yang mencari berbeda dengan orang yang sedang bersantai
Orang membuka TikTok untuk mengisi waktu, bukan untuk membeli. Orang yang mengetik
"homestay Piaynemo" atau "pasang Starlink Waisai" di Google sedang punya niat, sedang
memegang uang, dan sedang membandingkan pilihan.
Website menangkap orang jenis kedua. Media sosial hampir tidak pernah bisa, sebab di sana
Andalah yang mendatangi orang, bukan orang yang mendatangi Anda.
03
Google tidak menampilkan isi Instagram
Unggahan media sosial nyaris tidak pernah muncul di hasil pencarian. Jadi ketika calon
pelanggan mencari jenis usaha Anda, yang mereka temukan adalah pesaing, agen perjalanan,
atau tidak ada apa pun.
Buktikan sendiri sekarang. Cari nama usaha Anda di Google lewat ponsel.
Perhatikan apa yang muncul, dan yang lebih penting, apa yang tidak muncul.
04
Akun bisa hilang dalam semalam
Kena retas, kena laporan beramai-ramai, atau kena salah tafsir sistem otomatis. Tidak ada
kantor yang bisa didatangi dan tidak ada kepastian pulih. Semua pengikut, semua foto, dan
semua percakapan dengan calon tamu ikut hilang bersamanya.
Website yang domainnya terdaftar atas nama Anda tidak bisa diambil siapa pun.
05
Pengikut itu bukan milik Anda
Punya sepuluh ribu pengikut tidak berarti sepuluh ribu orang melihat unggahan Anda. Yang
menentukan siapa melihat apa adalah algoritma platform, bukan pemilik akun, dan untuk
menjangkau pengikut sendiri sering kali sekarang harus membayar iklan.
Artinya Anda membangun aset berharga di atas tanah yang sewanya bisa dinaikkan sepihak.
06
Kepercayaan saat uangnya besar
Orang yang akan mentransfer beberapa juta rupiah ke Papua Barat Daya untuk menginap tiga
malam membutuhkan alasan untuk percaya. Alamat surel dengan nama domain sendiri, halaman
legalitas, alamat kantor yang jelas, dan foto yang benar memberi alasan itu.
Untuk instansi dan pengadaan barang dan jasa, ini bahkan bukan lagi soal selera. Profil
perusahaan, NIB, dan dokumen legalitas tidak mungkin dikirim lewat biografi Instagram.
07
Unggahan mati dalam dua hari, halaman bertahan bertahun-tahun
Unggahan media sosial praktis berhenti menjangkau orang setelah dua hari, lalu tenggelam.
Satu halaman website yang ditulis dengan benar bisa terus mendatangkan calon pelanggan
selama bertahun-tahun tanpa disentuh lagi.
Yang satu menuntut Anda bekerja terus supaya tetap terlihat. Yang lain dibayar sekali,
lalu bekerja sendiri.
08
Informasi yang bisa dicari kembali
Tarif, paket, syarat pembatalan, cara sampai ke lokasi, jadwal kapal, dan pertanyaan yang
sering ditanyakan. Di media sosial semua itu terkubur di unggahan enam bulan lalu atau di
sorotan yang tidak bisa dicari, sehingga Anda menjawab pertanyaan yang sama setiap minggu.
Di website, semuanya menjadi satu tautan tetap yang bisa dikirim kapan saja kepada siapa saja.
09
Datanya milik Anda
Nomor WhatsApp dan alamat surel yang masuk lewat formulir website adalah daftar pelanggan
yang bisa Anda hubungi lagi tanpa izin siapa pun, dan tetap ada walau akun media sosial Anda
hilang besok.
Anda juga melihat halaman mana yang dibaca, dari mana pengunjung datang, dan di titik mana
mereka berhenti. Itu keterangan yang tidak diberikan platform mana pun.
Media sosial itu untuk ditemukan. Website itu untuk dipercaya dan dipesan.
Yang satu tidak menggantikan yang lain, tetapi hanya satu yang benar-benar milik Anda.